Dua Malaikat Pelindung
Pada suatu malam dua sosok malaikat berjumpa di gerbang kota, dan mereka saling menyalami satu sama lain, kemudian bercakap-cakap.
Malaikat pertama berkata, "Apa yang kau lakukan di hari-hari belakangan ini, dan apa yang diberikan pekerjaan itu untukmu?"
Malaikat yang lain menjawab, "Sudah ditugaskan lagi padaku untuk menjadi penjaga seseorang yang terpuruk dan tertinggal di dalam lembah, pendosa ulung, yang berada di paling dasar. Mari kuyakini kepadamu bahwa ini adalah tugas penting, dan aku bekerja keras."
Malaikat pertama berkata, "Itu pekerjaan mudah. Aku sudah mengenal banyak pendosa, dan sering menjadi penjaga mereka. Namun sekarang aku ditugaskan menjaga manusia suci yang baik, yang tinggal di dalam rumah nun jauh di sana dan kuyakinkan padamu bahwa ini adalah pekerjaan yang sangat sulit, dan paling subtil."
Berkatalah malaikat yang lain, "Itukan cuma asumsi. Bagaimana bisa menjaga seorang suci lebih berat daripada menjaga seorang pendosa?"
Kemudian para malaikat itu berdebat dan bertengkar, mula-mula dengan kata-kata, kemudian dengan kepalan, dan berlanjut dengan kibasan sayap.
Sementara mereka bertengkar, malaikat tertinggi datang. Dan menghentikan mereka sambil berkata. "Mengapa kalian bertengkar? Apa yang diperebutkan? Apa kalian tidak tahu bahwa sangat tidak pantas bagi malaikat penjaga bertengkar di gerbang kota? Katakan padaku, apa yang kalian tidak sepakati?"
Malaikat tertinggi menggelengkan kepalanya dan berpikir dalam.
Kemudian dia berkata, "Kawan-kawanku, aku tidak bisa mengatakan sekarang siapa di antara kalian yang patut menerima pengakuan lebih besar atas kehormatan dan penghargaan. Namun karena kekuasaan telah dianugrahkan padaku, oleh karenanya demi perdamaian dan penjagaan yang baik aku memberikan masing-masing kalian pekerjaan yang lainnya, karena masing-masing kalian memaksakan bahwa tugas yang lain lebih mudah. Sekarang pergilah dan berbahagialah di tempat kerja kalian."
Kedua malaikat itupun diperintahkan untuk pergi ke tempat mereka. Namun masing-masing mereka menoleh kebelakang dengan penuh amarah kepada malaikat tertinggi. Dalam hati mereka masing-masing berkata, "Ya ampun para malaikat tertinggi ini! setiap hari membuat hidup makin berat dan makin berat lagi bagi kita para malaikat."
Namun sang malaikat tertinggi berdiri di sana dan sekali lagi berpikir, serta menambahkan dalam hatinya, "Benar-benar kita harus mengawasi dan menjaga para malaikat pelindung kita."

Komentar
Posting Komentar